Rss Feed Facebook Twitter Google Plus

BELAJAR PEDULI – BELAJAR BERBAGI:


ABOUT US


Secuil kisah
Suatu sore beberapa remaja putri tetangga sekitar datang ke rumah untuk meminjam sepatu vantopel. Untuk acara lulusan SMP, ujar mereka. oh selamat ya.. sambil mencoba mengenali siapa saja mereka, maklum baru pindahan rumah beberapa bulan jadi belum hafal betul dengan siapa remaja yang sedang dihadapi. Ketika ditanya, mau melanjutkan kemana? mereka hanya nyengir. tapi serempak jawab, gak nglanjutin bu, gak ada biaya. Oh, tapi pengin sekolah lagi gak? sebagian mereka menggeleng, gak katanya tegas, mau kerja aja. oh hebat ya, dah mau cari uang sendiri, mau kerja dimana? ya di mana aja, di toko,di pabrik. dicek satu satu, eh ada beberapa yang pengin sekolah ternyata. Sesaat muncul iba mendengarnya.
Merenung selepas kepergian mereka, apakah Alloh kirimkan mereka ke rumah ini untuk suatu tujuan? apakah Alloh menganggap saya mampu berbuat sesuatu untuk mereka ? tapi apa yang mampu saya perbuat untuk mereka ? membiayai sekolah ? sedangkan untuk tabungan untuk anak-anak sendiri saja tidak juga bertambah? dan deretan kebutuhan yang harus dicukup-cukupkan?
Tapi apakah harus menunggu hingga seluruh deretan itu terlampaui hingga akhirnya ada sesuatu yang cukup banyak bisa disisakan untuk orang lain? ataukah memakai logika terbalik, bahwa untuk membantu orang lain seharusnya bukan menunggu hingga ada sisa, karena pada akhirnya biasanya semua akan habis tak ada sisa. Otak kita terbiasa dengan menghabiskan uang sehingga akhirnya terbeli barang atau makanan yang tidak kita butuhkan, hanya sekedar kita inginkan, yang akhirnya tak ada sisa cukup banyak yang bisa kita dermakan.
Berkelebat pula keyakinan bahwa, niatan tulus tak akan pernah menjadi sia-sia, karena Gusti Alloh boten sare, Gusti Alloh akan mencukupkan seluruh kebutuhan atas niatan baik itu dengan berbagai jalanNya, yang penting dimulai dulu langkah besar itu.
So, mulai dengan bismillah, lanjutkan dengan tawakkal 'alallah....

Singkat cerita, pada awal tahun ajaran baru 2013 (Juli 2013) akhirnya 4 remaja putri mulai tinggal bersama di rumah kami yang mungil, bersama dengan 3 anak kami sendiri yang masih imut imut (hanifa 7th, haniyya 5th, hafiyya 2th). Konsepnya bahwa kami tidak sekedar menyediakan biaya pendidikan, tapi juga turut memberikan pendidikan dan pembinaan di luar sekolah, maka konsep boarding (menginap di rumah kami) adalah sarana pembinaan terbaik menurut kami.
Karena sebelumnya kami berdua (saya dan suami) pernah punya pengalaman mengajar di sekolah boarding selama hampir 7 tahun, maka berdasar pengalaman itu coba kami ramu dengan berbagai aktivitas luar sekolah. Ada program tahfidz pagi sebelum mereka berangkat sekolah, program harian tiap malam berisi pelatihan public speaking, motivasi dan manajemen diri, kajian remaja kontemporer, kajian keagamaan,  kegiatan bersama masyarakat pekanan, kegiatan ketrampilan dan training remaja semesteran hingga tahunan.
Alhamdulillah memasuki tahun ke3 di tahun 2015 ini, jumlah anak asuh 11orang (4 orang kelas X, 5 orang kls XI, 2 orang kelas XII), masih bersama kami menempati rumah kecil dengan fasilitas terbatas.
Animo masyarakat alhamdulillah luar biasa, respon para guru di sekolah pun positif, maka saatnya kami mengambil sebuah langkah besar untuk mewujudkan cita-cita yang lebih besar.
September 2015 dimulailah proses pendirian yayasan, dengan menggandeng rekan-rekan yang concern pula di bidang sosial di tengah kesibukan pekerjaan mereka. Karena beban ini tak mungkin sanggup kami berdua panggul sendiri, pun karena bersama pengurus yayasan kami masih harus menggandeng yang lainnya, maka jadilah website dan aneka medsos kami manfaatkan, dalam rangka menggandeng para dermawan, termasuk Anda yang membaca ini ^_^

Yuk kenalan dengan kru dapur kami ^_^
Yayasan BAKTI CINTA ANAK NEGERI.
1. Badrul Munir, S.TP.,MP.
    alumnus IPB yang banyak interaksi dengan kegiatan sosial saat kuliah, dan berkesempatan mengajar dan membina anak remaja di sebuah sekolah boarding di Jawa Barat. Perjalanan membawanya bekerja terpisah ratusan kilometer dari keluarga, namun cita-cita nya untuk membina remaja tak pernah pudar di sela-sela tugasnya sebagai pengawas benih di sebuah balai besar milik pemerintah.
2. Lindhawati, ST.
    alumnus ITS yang suka mempelajari banyak hal baru, membawanya pada perjalanan sebagai pengajar di sebuah boarding school di jawa barat. interaksi yang intens dengan para siswa dan guru di sana menumbuhkan kesadaran bahwa hidup tidak hanya untuk mengejar kebahagiaan materi, tapi adalah masa untuk mengoptimalkan potensi untuk kemanfaatan bagi sesama, itu lebih membahagiakan dan menenangkan hati.
3. Purwi Lestari, SE.
    alumnus Unwiku ini tetap eksis dengan aktivitas sosial walau kadang tubuhnya memaksanya untuk beristirahat barang sebentar. Interaksinya dengan anak muda membuatnya mampu memahami berbagai karakter anak muda dan membahasakan dengan bahasa yang mereka sukai. sesuatu yang baru akan didapatkan karena pengalaman panjang, keren... ^_^
4. Yuni Dwi Kushartati, S.Si., Apt.
    alumnus ITB ini selalu menjadi inspirasi dengan aktivitas sosialnya di tengah kesibukannya berkeliling sebagai bagian dari tugasnya di bagian farmasi dan kesibukannya mengurus 5 anaknya. Ambil jenak sesaat untuk kembali beraktivitas lebih optimal, keren ya... selesai satu urusan, kerjakan yang berikutnya, sip sip sip ^_^
5. Eti Widiasih, A.Md.
    alumnus Undip yang menjalani hari dengan penuh perencanaan. pola berfikir step by step membantunya untuk mengatur aktivitasnya seharian sehingga optimal dan full manfaat. manteeep.... ^_^


   

Share This :

1 komentar:

 

ALAMAT KAMI

Desa Bajong RT 01 RW 05, Kecamatan Bukateja - Kab. Purbalingga Jawa Tengah - Indonesia

KONTAK KAMI

Facebook : Yayasan Bakti Cinta Anak Negeri, email : yysbacan@gmail.com, telp.wa : 0856 4793 7276

DONASI

Bank MANDIRI KCP. Purbalingga Norek.139-00-1689938-1 an. Yayasan Bakti Cinta Anak Negeri